Calon TKI Ilegal Digagalkan

Untitled-7_5

SANGGAU — Polres Sanggau berhasil menggagalkan upaya keberangkatan calon tenaga kerja Indonesia ilegal ke Malaysia di Jalan Raya Sosok pada Minggu lalu. Empat korban tindak pidana perdagangan orang saat ini berada di selter BP3TKI Pontianak. Sementara tiga lainnya satu di antaranya bayi berusia dua tahun, masih berada di BP2KBPA Sanggau.

Upaya penggagalan keberangkatan TKI ilegal semua berdasarkan laporan masyarakat, bahwasanya ada sebuah kendaraan roba empat membawa calon TKI akan diberangkatkan ke luar Malaysia melalui jalur Entikong. Berdasarkan informasi tersebut, anggota Reskrim Polres Sanggau melakukan langkah penyidikan dan berhasil mengamankan enam TKI.

“Tiga orang korban TPPO berumur dua tahun bersama ibu dan neneknya, dititipkan di BP2KBPA Sanggau,” kata Kasat Reskrim Sanggau, Iptu Harjanto, seperti dalam bahan keterangan yang diterima Pontianak Post.

Eko Suprianto (25) satu di antara calon TKI yang digagalkan mengaku sudah pernah kerja di Malaysia sejak tahun 2012 dengan menggunakan visa kunjungan. Empat tahun kerja di sana, dia memutuskan untuk menjenguk keluarganya di Lampung.

“Di Lampung, susah cari kerjaan. Makanya saya mau kerja lagi di Malaysia,” kata Eko usai diperiksa petugas BP3TKI di selter Jalan Suwignyo, Kamis (1/9).

Eko mengaku tidak mengenal satu sama lain dari rekan sesama calon TKI ilegal. Dia bertemu dengan rombongan di sebuah penampungan milik Mardi di Pontianak. Mardi diketahui seorang agen penyalur TKI.

“Saya tidak kenal sama mereka. Dari Supadio dijemput pakai motor, tidur di penampungan. Kenalnya di sana,” ungkapnya.

Pada 27 Agustus, keberangkatan Eko untuk kedua kalinya gagal, setelah diamankan Polres Sanggau beserta rekan lainnya di jalan raya Sosok.

Empat tahun silam, saat dia lolos masuk ke Malaysia, Eko kerja serabutan. Menjadi sopir hingga buruh bangunan dilakukan. Gajinya, lumayan. Jika di kampung halamannya, dia mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan, di Malaysia dia meraup hampir Rp4 juta perbulan. Setelah tertangkap, dia mengaku bingung mau kerja apa dan di mana. “Masih belum tahu setelah ini mau kerja di mana,” katanya.

Sementara, Iwan Riyan Hidayat justru memantapkan hati untuk tidak lagi menjadi TKI ilegal. “Tidak mau lagi. Kapok sudah cukup ini dulu, cukup cari di negara sendiri,” ungkapnya.

Dia tiga tahun kerja di perkebunan sawit di Malaysia. Usai cuti tiga bulan, rencana untuk kembali bekerja sebagai TKI kandas di tengah jalan.

Sebelum tertangkap, warga asal Sumbawa ini mengaku betah kerja di Malaysia. Selain tidak banyak tekanan, gaji yang diterima perbulan cukup besar, hingga RM2.100. “Setelah ini, saya akan cari kerja di kampung halaman. Hasil dari kerja di Malaysia, sudah ada untuk beli sawah,” katanya.

Penyidik BP3TKI Pontianak, IPDA Bambang Irawan mengatakan calon TKI ilegal ini rencananya akan dipulangkan ke daerah asal. Ada tujuh orang, satu di antaranya anak di bawah umur satu keluarga.

“Berdasarkan surat dari Polres Sanggau, Mardi, beserta istrinya sudah ditahan. Ada juga Helmi, sopir juga,” kata Bambang.

Sebelum dipulangkan ke daerah asal, BP3TKI juga menawarkan solusi untuk calon TKI ilegal ini. Jika masih ingin bekerja di malaysia, akan diarahkan melalui jalur resmi.

“Kami tawarkan calon TKI masih mau berangkat atau tidak ke keluar negeri. Kalau misalnya mau berangkat, kita vasilitasi PT yang resmi. Jumlah semuanya 7 orang,” tukasnya.

Pada Senin, 29 Agustus lalu, Pemerintah Malaysia kembali memulangkan sebanyak 21 pekerja migran bermasalah. Seluruh pekerja yang dipulangkan itu diketahui adalah perempuan. “Mereka ini berangkat secara tak prosedural,” paparnya.

Sebelumnya, Kapolsek Entikong, AKP Kartyana menerima pemulangan 21 orang pekerja migran bermasalah, mereka dibawa dengan menggunakan mobil Imegresen Kuching Malaysia pukul 15.00 tiba di Border Entikong.

Setibanya di border PPLB Entikong, lanjut dia, rombongan pekerja migran bersama langsung dibawa menuju kantor P4TKI Entikong. “Pada saat diterima, TKI tersebut langsung dilakukan screening oleh anggota Polsek Entikong dan P4TKI Entikong,” paparnya.

Dalam screening, dia menambahkan, ada indikasi puluhan pekerja migran tersebut merupakan korban perdagangan orang maka dapat dilakukan pengusutan terhadap Agen pengiriman pekerja migran ilegal dan jaringannya.

“Hasil dari screening, rata-rata permasalahannya karena pekerjaan tidak sesuai, gaji tidak sesuai, tidak memegang paspor, tidak ada permit serta dalam kondisi sakit,” ungkapnya.

Kartyana mengungkapkan dari 21 pekerja migran bermasalah yang dipulangkan itu, 14 orang berasal dari Kalimantan Barat, dua orang dari Jawa Timur, satu orang dari Jawa Barat, satu orang dari NTT, satu orang lainnya dari NTB, Kalimantan Tengah satu orang dan Sumtara Selatan satu orang. (adg/gus)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *